Dampak AI dalam industri film semakin terasa nyata dengan hadirnya Google Veo 3—sebuah teknologi yang mampu membuat video hanya dari teks. Tapi, apakah kemajuan ini akan menghapus peran manusia di balik layar?
Namun, dengan munculnya teknologi ini apa yang akan terjadi dengan para kreator di industri film?
Google Veo 3, merupakan model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru dari Google DeepMind, dimaksudkan untuk membuat video hanya dengan perintah teks dan memiliki kemampuan untuk mensimulasikan fisika dunia nyata dan sinkronisasi bibir dalam video dengan berkualitas tinggi.
Menurut Abdalah Gifar selaku Wakil Ketua Komunitas Bandung Film Commission, kemunculan teknologi seperti ini sudah lama diprediksi. “Kita tidak bisa menghindari kehadiran AI. Dulu kita tidak bisa menolak internet dan media sosial, sekarang AI adalah babak berikutnya. Namun, yang tak bisa digantikan adalah aspek kemanusiaan dari karya itu sendiri,” tegasnya.
Gifar menambahkan bahwa AI memang memiliki efisiensi yang luar biasa. Cukup mengetik prompt, hasilnya bisa langsung jadi. Tetapi, ia menekankan bahwa film bukan sekadar soal visual, melainkan juga emosi, pengalaman, dan sentuhan manusia.
Dampak AI dalam Industri Film
Inovasi AI seperti Google Veo 3, memang memudahkan proses produksi. Namun, hal ini sekaligus mengubah sejumlah komponen penting dari proses kreatif. “Industri film itu padat karya dan padat modal. Ada artistik, lokasi, peralatan, hingga kerja tim. Dengan AI, banyak yang bisa dipangkas, tapi apakah cukup menggantikan?” kata Gifar.
Ketidakkonsistenan antara visual dan karakter dalam film buatan AI merupakan masalah utama. Penggunaan wajah yang mirip seseorang tanpa izin juga dapat menyebabkan perdebatan etika dan hukum.
“AI mungkin bisa meniru bentuk, tapi tidak bisa meniru jiwa,” ucap Gifar. Ia menyatakan bahwa film yang kuat membutuhkan pengalaman lapangan, kepekaan emosional, serta nuansa yang dibawa oleh manusia.
“Kalau semua digantikan oleh prompt, lalu di mana posisi penata cahaya, pengarah artistik, dan sinematografer? AI tidak bisa menyaingi kreativitas yang datang dari pengalaman dan intuisi manusia,” tambahnya.
Gifar mengaku bahwa hingga saat ini ia belum memanfaatkan langsung Google Veo 3. “Sementara ini, kalau saya sendiri belum coba-coba di Veo 3,” katanya. Namun, ia menyadari bahwa kemampuan prompting akan menjadi keterampilan utama di masa depan, bahkan diprediksi menjadi kebutuhan penting pada 2030.
Perkembangan industri film berbasis AI di Indonesia masih terpusat di beberapa kota besar. Gifar menyebutkan bahwa saat ini Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta menjadi pusat pengembangan karena SDM perfilman banyak yang datang dari kota-kota tersebut.
Menurut Gifar, aktor utama dalam mendorong inovasi bukan hanya perusahaan teknologi seperti Google, tapi juga asosiasi pekerja film yang harus aktif menyikapi perkembangan ini. Pemerintah pun diharapkan lebih responsif agar ada regulasi yang melindungi pekerja kreatif.
Ia menambahkan, “Yang paling terdampak jika industri film tidak merespons AI adalah pekerjanya sendiri, bukan penontonnya. Penonton hanya akan melihat sajian yang berbeda, tapi pekerja bisa kehilangan lapangan kerja.”
Strategi Menghadapi Dampak AI dalam Industri Film

Strategi dalam menangani AI tidak hanya menghasilkan inovasi baru, tetapi juga kembali ke akar masalah. Gifar menegaskan pentingnya memperkuat aspek cerita, karakter, dan emosi. “Hollywood saja dulunya tidak langsung seperti sekarang. Dulu semua dilakukan di studio, tapi akhirnya berkembang ke realisme. Kita harus kembali ke sisi manusia,” ujarnya.
Untuk memastikan bahwa inovasi menjawab keresahan pekerja film, Gifar percaya bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti. “Kita yang mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Jangan termakan propaganda film-film Hollywood tentang manusia dikuasai mesin. AI tetaplah alat.”
Kemunculan Google Veo 3 dan teknologi AI lainnya memang membuka peluang baru dalam industri film, namun juga menghadirkan dilema besar bagi para pekerja kreatif. Menurut Gifar, AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan sentuhan manusia, terutama dalam menyampaikan emosi, cerita, dan pengalaman yang autentik.
Terlihat jelas bahwa meskipun AI memiliki kemampuan revolusioner dalam industri film, mulai dari pra-produksi hingga pasca-produksi esensi kinerja manusia tetap tidak tergantikan.
Baca juga: Sampah Plastik: Apa yang Kita Buang Kembali ke Hidup Kita
AI memang mampu meningkatkan efisiensi melalui automasi tugas teknis dan analisis data prediktif, namun keputusan artistik, interpretasi naratif, serta sentuhan emosional dalam film tetap membutuhkan kecerdasan emosional manusia yang tidak dapat direplikasi mesin. Kedepannya, industri film yang berkelanjutan akan bergantung pada sinergi ini, pemanfaatan AI untuk memperluas kemungkinan kreatif, sambil mempertahankan pekerja manusia sebagai jantung dari proses kreatif.
Seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs 9) Infrastruktur manusia yang tangguh, adaptif, dan kreatif harus dibangun bersamaan dengan inovasi. Bukan untuk menyingkirkan, tetapi untuk berkolaborasi.
“Film yang hebat bukan hanya soal visual yang indah, tapi tentang cerita yang menyentuh jiwa. Dan jiwa itu masih milik manusia.” – Abdalah Gifar
Ditulis oleh : Syahida Hasana, Riyan Apriana, Tania Chintya Bella.
















Leave a Reply