Gas Air Mata di Tengah Aksi: Panduan Bertahan dan Pertolongan Pertama

Bandung — Kericuhan dalam aksi unjuk rasa mahasiswa dan pengemudi ojek daring di Bandung kembali memunculkan persoalan serius: penggunaan gas air mata. Pada aksi yang berlangsung di sekitar Unisba dan Unpas, banyak peserta harus mendapat perawatan akibat paparan zat kimia ini. Situasi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya pemahaman publik tentang bahaya gas air mata serta langkah pertolongan pertama saat terpapar.

 

Baca juga: Kasus Affan Kurniawan: Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob

 

Peningkatan Penggunaan Gas Air Mata

Menurut laporan Amnesty International Indonesia (2023), penggunaan gas air mata meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, banyak peserta aksi maupun warga sekitar harus menghadapi risiko kesehatan.

Gas air mata merupakan senyawa kimia iritan yang umumnya mengandung CS (chlorobenzylidenemalononitrile) atau CN (chloroacetophenone). Zat ini bekerja dengan cara mengiritasi mata, saluran pernapasan, dan kulit.

Efek paparan biasanya terasa dalam hitungan detik, seperti:

  • Mata berair, perih, dan sulit dibuka.
  • Hidung meler, batuk, hingga sesak dada.
  • Kulit panas atau gatal.
  • Pusing, mual, hingga panik.

Meski efeknya disebut “sementara”, studi dari British Medical Journal (2021) mencatat sekitar 20% orang mengalami gangguan jangka panjang, terutama pada paru-paru dan mata. Kelompok rentan seperti penderita asma, anak-anak, dan lansia lebih berisiko.

 

Dampak Fisik dan Psikologis

gas

 

Bahaya gas air mata bukan hanya dari zat kimianya, tetapi juga kondisi lapangan. Saat gas ditembakkan, massa biasanya panik, berdesakan, bahkan terinjak. Risiko yang muncul antara lain:

  • Gangguan pernapasan berat pada penderita asma atau penyakit paru.
  • Cedera mata akibat kontak langsung dengan partikel kimia.
  • Trauma psikologis, seperti rasa takut berlebihan atau cemas di keramaian.

 

Langkah Pertolongan Pertama

Untuk meminimalkan risiko, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan ketika terpapar gas air mata:

  1. Tetap tenang – hindari panik agar pernapasan tidak semakin cepat.
  2. Menjauh dari area paparan – bergerak ke arah berlawanan angin atau lokasi lebih tinggi.
  3. Lindungi pernapasan – gunakan masker, kain basah, atau kain dengan larutan soda kue.
  4. Lindungi mata – jangan mengucek mata, segera lepas lensa kontak, lalu bilas dengan air bersih atau larutan saline (NaCl 0,9%).
  5. Bilas kulit – gunakan sabun lembut dan air dingin, hindari air panas.
  6. Lepas pakaian terpapar – simpan di kantong plastik tertutup sebelum dicuci terpisah.
  7. Cari pertolongan medis – jika gejala tidak hilang atau semakin parah.

 

Edukasi Publik Jadi Kunci

Gas air mata memang dimaksudkan untuk mengendalikan massa, tetapi dampaknya bagi kesehatan tidak bisa diabaikan. Masyarakat perlu dibekali edukasi agar mampu melindungi diri dan orang sekitar.

Kuncinya adalah tidak panik, segera menjauh dari sumber paparan, melindungi pernapasan dan mata, serta mencari bantuan medis bila diperlukan. Dengan kesadaran bersama, risiko paparan gas air mata dapat diminimalkan, sehingga masyarakat tetap dapat menyuarakan aspirasi tanpa mengorbankan keselamatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *