Nama Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol), kini menjadi sorotan publik setelah ia tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat berlangsungnya demonstrasi di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Kejadian tragis pada akhir Agustus 2025 ini menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban tetapi juga masyarakat luas.
Kronologi dan Pengakuan Sopir Rantis

Menurut keterangan pihak kepolisian, rantis Brimob yang melindas Affan dikemudikan oleh Bripka Rohmat. Dalam pengakuannya, ia mengaku tidak sengaja melindas korban karena kondisi jalanan yang ramai dan penuh sesak. Namun, pengakuan tersebut tidak mampu meredam kemarahan publik yang menilai adanya kelalaian fatal hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.
Kasus ini kemudian naik ke tahap penyelidikan mendalam. Kompol Kosmas, atasan Bripka Rohmat, menyampaikan bahwa pelaku bisa terancam sanksi berat, termasuk pemecatan dari institusi Polri. Tak hanya itu, polisi juga menegaskan bahwa ada unsur pidana dalam kasus ini dan gelar perkara segera dilakukan untuk menentukan proses hukum lebih lanjut.
Kesaksian Ayah dan Rekan Affan

Ayah Affan, Zulkifli, menegaskan bahwa putranya bukanlah demonstran. Affan saat itu sedang bekerja.
Dia bilang, “Pak, saya keluar duluan.” Saya tanya, “Dek, mau narik?” Dia jawab, “Iya, Pak, narik.” (Liputan6)
Rekan sesama ojol, Hafidz (40), juga mengonfirmasi:
“Saat itu (Affan) enggak ikut demo, lagi nganter orderan GoFood. Itu dia lagi nyebrang, nah mobil barakuda (Rantis Brimob) ngebut, jadi kelindas di situ.” (CNA Indonesia)
Dengan suara penuh kesabaran, sang ayah menyampaikan pesan kepada masyarakat:
“Saya minta kepada mitra-mitra online, cukup anak saya yang menjadi korban. Saya sudah serahkan kepada penegak hukum … mohon kepada rekan-rekan, jangan sampai kejadian seperti anak saya. Percayakan kepada aparat kepolisian.” (Detik News)
Kesaksian ini menegaskan bahwa Affan adalah korban yang sedang mencari nafkah, bukan bagian dari massa aksi.
Gelombang Solidaritas: “Kita Semua Adalah Affan Kurniawan”
Tragedi ini tidak hanya berhenti sebagai berita kriminal biasa. Masyarakat luas, termasuk civitas akademika Universitas Islam Indonesia (UII), menyuarakan solidaritas dengan tagline “Kita Semua Adalah Affan Kurniawan.” Seruan ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sekaligus doa bersama agar kasus ini tidak berhenti di tengah jalan.
Di lokasi kejadian, ratusan warga menggelar aksi tabur bunga dan doa bersama. Suasana haru menyelimuti kawasan tersebut, menunjukkan bahwa kepergian Affan meninggalkan luka mendalam. Publik menuntut agar kasus ini ditangani secara transparan dan adil, tanpa adanya intervensi.
Baca juga: Situasi Bandung Usai Demo Ricuh: Ratusan Dirawat, Bangunan Rusak
Tuntutan Keadilan dan Harapan Publik

Bagi keluarga korban, keadilan adalah harga mati. Mereka berharap agar institusi kepolisian tidak hanya memberikan sanksi etik, tetapi juga memproses hukum sesuai aturan pidana yang berlaku. Hal ini penting agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Kasus Affan Kurniawan menjadi momentum penting dalam menyoroti praktik penanganan demonstrasi di Indonesia. Publik menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan kendaraan taktis dalam mengamankan aksi massa, agar aparat tetap humanis dan tidak membahayakan warga sipil.
Jalan Panjang Keadilan untuk Affan Kurniawan
Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan bukan sekadar catatan hitam dalam penanganan aksi demonstrasi, melainkan juga alarm keras bahwa nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Dari pengakuan sopir rantis, kesaksian keluarga, hingga solidaritas masyarakat, semua mengarah pada satu hal: keadilan untuk Affan harus ditegakkan.
Kasus ini bukan hanya tentang seorang driver ojol, tetapi tentang martabat kemanusiaan yang seharusnya dijaga. Karena pada akhirnya, seperti yang digaungkan masyarakat,
“Kita semua adalah Affan Kurniawan.”
















Leave a Reply