Per September 2024, 8,57% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan— sekitar 24,06 juta jiwa - KOMPAS.com. Meski turun dari 9,03% pada Maret 2024, tantangan sebenarnya adalah ketika kemiskinan dan kelaparan terjadi sekaligus dalam wilayah yang sama, terutama di kantong ekstrem seperti Papua Barat, DIY, dan NTT. Pada awal 2025, pemerintah meluncurkan program makan bergizi gratis senilai Rp 71 triliun untuk 19,5 juta anak dan ibu hamil – Kemenko PMK. Namun hingga Juni, baru 4,9 juta penerima mendapatkan manfaat—kurang dari 3% dari target utama - Reuters. Ketimpangan akses serta sistem data dan logistik yang buruk menyebabkan dua isu SDGs ini tetap membayangi negeri agraris kaya pangan.
Tren Data 2024–2025: Kemiskinan & Kelaparan Paralel
- Kemiskinan nasional :
Maret 2024 : 9,03% (\~25,22 juta orang) - Kemenpan RB, Badan Pusat Statistik Indonesia.
September 2024 : 8,57% (\~24,06 juta orang) .
- Kemiskinan ekstrem :
Maret 2024 : 0,83%, turun dari 1,12% tahun sebelumnya - Kemenko PMK.
- Kelaparan (Global Hunger Index) :
Skor 2024 : 16,9—moderate hunger; Indonesia urutan 3 tertinggi di ASEAN – FIAN INDONESIA.
- Program makan bergizi gratis :
Target: 19,5 juta di tahap awal 2025.
Realisasi Juni 2025: 4,9 juta (2,6% dari alokasi Rp171 triliun) - Wikipedia, AP News, Reuters.
- Kesenjangan data :
Perhitungan BPS (COST), berbeda dengan Bank Dunia (PPP) → berdasarkan standar PPP 2021, kemiskinan bisa mencapai 68,3% penduduk - KOMPAS.com.
Baca juga: Sampah Plastik: Apa yang Kita Buang Kembali ke Hidup Kita
Tiga Studi Kasus Lokal Terbaru
Papua Barat: Kantong Kelaparan & Kemiskinan Ekstrem
- Angka kemiskinan ekstrem : 7–8%, hampir dua kali rata-rata nasional - Wakil Presiden Republik Indonesia.
- Tingginya harga pangan di wilayah pesisir & pegunungan, mencapai 20–30% lebih tinggi daripada Jawa akibat logistik mahal .
- Penolakan program makan bergizi di kalangan pelajar Papua—protes pada Februari–April 2025 mengindikasikan minimnya konsultasi dan budaya local acceptance .
Analisis : Pendekatan berbasis supply–side dari Jakarta tak efektif. Perlu sistem distribusi mandiri dan pemberdayaan logistik di masing-masing kabupaten.
DIY (Yogyakarta): Kemiskinan Mikro Tersembunyi
- 15 kapanewon dengan kemiskinan 10–11%, melampaui rata-rata nasional .
- Meski pelatihan beternak dan pemberdayaan digulirkan, alokasi bantuan diseragamkan alih-alih berdasarkan intensitas kemiskinan nyata.
Analisis : Sistem basis data masih belum granular; blokir miskrerasi menyebabkan bantuan salah sasaran dan penduduk paling rentan terabaikan.
Nusa Tenggara Timur: Desa Mandiri Vs Program yang Asimetris
- Meskipun ada intervensi di 22 kabupaten, kemiskinan ekstrem naik dari 6,44% ke 6,56% pada 2023 .
- Program “Desa Mandiri” baru menjangkau sebagian kecil—belum mengutamakan potensi lokal seperti perempuan, agro, atau pariwisata pedesaan.
Analisis Pemodelan program terlalu top-down. Desa memerlukan pemetaan potensi dan modal sosial berbasis komunitas, bukan aplikasi generik dari pusat.
Akar Sistemik: Di Mana Sistem Gagal

Dampak Multidimensional & Intergenerasional
- Kesehatan & Gizi : Kelaparan kronis dan stunting (21,5%) masih tinggi .
- Produktivitas ekonomi : Kelaparan ringan mengurangi produktivitas sehari-hari, menjebak warga dalam lingkaran kemiskinan.
- Kepercayaan publik : Penolakan MBG di Papua dan protes warga DIY menunjukkan kemarahan sosial akibat salah sasaran.
- Kesenjangan sosial : Bantuan yang “menutupi tapi tidak mengangkat” memperlebar jurang antarkelas sosial dan wilayah.
Rekomendasi Solutif & Advokasi
Data dan Sabuk Kemiskinan Mikro (Micro-targeting)
- Implementasi sistem Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional hingga RT/RW.
- Alokasi anggaran berdasarkan kedalaman kemiskinan provinsi/kabupaten.
Logistik Hijau : Distribusi Lokal Mandiri
- Subsidi transportasi pangan ke wilayah 3T.
- Bangun buffer stok desa , serta model “farming to feeding” lokal.
Program yang Kontekstual dan Partisipatif
- Papua Barat: libatkan elite lokal dan perempuan.
- DIY: dorong kapabilitas “mentoring sesama warga”.
- NTT: kembangkan “desa potensi lokal” berdasarkan aset desa.
Evaluasi & Transparansi Real-time
- Monitoring triwulanan Inpres 8/2025 pada tiap desa.
- Gunakan platform e‑monitoring terbuka untuk publik dan komunitas.
Sinergi Lintas Sektor & Budaya Advokasi
- Kolaborasi kementerian pertanian, sosial, lokal NGO (SMERU, Oxfam).
- Libatkan mahasiswa dan komunitas media lokal sebagai watchdog.
- Kampanye edukasi gizi inklusif dan urban/rural-farming.
Penutup Reflektif
Kondisi kekinian menunjukkan bahwa kemiskinan dan kelaparan kini saling memperparah, bukan berdiri sendiri—dan hal ini tersebar di berbagai wilayah dengan karakter berbeda. Papua Barat, DIY, dan NTT menjadi cermin bagaimana desain program yang tidak berbasis data lokal dan logistik yang buruk dapat memperburuk situasi. Meski pemerintah telah menanamkan visi besar lewat MBG, kemajuannya tak seimbang: program belum sampai pada mereka yang paling membutuhkan. Realisasi dana hanya 2,6% hingga pertengahan tahun—ini alarm nyata. Rencana besar perlu diimbangi dengan aksi lokal, data larut dan tepat, serta evaluasi transparan. Jika strategi ini dijalankan secara terintegrasi—dengan spirit advokasi rakyat dan komitmen politik yang konsisten—target tanpa kemiskinan dan kelaparan bukan lagi mimpi, tapi harapan yang nyata.
Penulis : Alief Bagas Wido Indrawan dan Nataraka Prasetya Salsa
















Leave a Reply