CEUTA, SPANYOL – (1/8/2026) Gelombang migran dalam jumlah besar kembali mengguncang wilayah enklave Spanyol di Afrika Utara. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 49.000 hingga 60.000 migran dilaporkan memasuki Ceuta dari Maroko melalui jalur laut dan darat, memicu krisis kemanusiaan serta membuat fasilitas penampungan di wilayah tersebut kewalahan.
Presiden Pemerintah Ceuta, Juan Jesús Vivas, menyatakan situasi tersebut sebagai “darurat kemanusiaan dan sosial mutlak.” Pusat penerimaan migran telah melebihi kapasitas, sementara tempat penampungan anak di bawah umur dilaporkan mengalami lonjakan penghuni hingga ribuan persen. Banyak migran juga terpaksa bertahan di luar fasilitas penampungan karena keterbatasan ruang.
Baca juga: Gaji Dosen Rp 2,6 Juta: Realitas Pahit Lulusan S3 Australia
Sebagian besar migran berasal dari Maroko dan memasuki Ceuta dengan berenang mengelilingi pemecah ombak Tarajal atau melalui jalur darat. Otoritas Spanyol kemudian mengerahkan personel militer dan memperketat pengamanan perbatasan untuk mengendalikan situasi. Di sisi lain, aparat Maroko juga meningkatkan patroli guna menekan arus penyeberangan ilegal.
Krisis tersebut juga memakan korban jiwa. Sedikitnya 57 orang dilaporkan meninggal dunia saat berusaha menyeberang menuju wilayah Spanyol. Pemerintah Spanyol dan Maroko kini mempercepat proses pemulangan migran yang masuk secara ilegal sembari memperkuat koordinasi pengamanan di perbatasan. Hingga Jumat, lebih dari 48.000 migran dilaporkan telah kembali ke Maroko secara sukarela.
Pemerintah Spanyol menegaskan penanganan krisis akan terus dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah Maroko dan Uni Eropa. Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, dijadwalkan meninjau langsung situasi di Ceuta guna memastikan langkah-langkah penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi.












Leave a Reply