Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia Masih Buruk? Ini Faktanya!

Sanitasi dan air bersih merupakan dua komponen mendasar dalam kehidupan manusia yang saling terkait erat. Sanitasi yang baik memastikan lingkungan sekitar bebas dari kontaminasi kotoran manusia yang dapat menjadi sumber penularan penyakit. Sementara itu, air bersih menjadi kebutuhan vital untuk konsumsi, kebersihan pribadi, serta menjaga keberlanjutan ekosistem.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pemenuhan akses sanitasi layak dan air minum aman termasuk dalam hak asasi manusia. Namun, di Indonesia, kedua hal tersebut masih menjadi persoalan yang cukup kompleks dan menuntut penanganan serius, baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun perubahan perilaku masyarakat.

Kondisi Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia

sanitasi dan air bersih

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2023), sekitar 88,5% rumah tangga di Indonesia telah memiliki akses ke sanitasi layak, tetapi hanya 67% yang memiliki akses sanitasi aman (yaitu sistem pembuangan limbah domestik yang memenuhi syarat). Sementara untuk air minum layak, cakupan nasional sudah mencapai 91%, namun air yang benar-benar aman dikonsumsi (bebas e.coli, logam berat, dan bakteri patogen) hanya sekitar 11%.

Hal ini menunjukkan bahwa meski cakupan angka “akses” tampak tinggi, kualitas sanitasi dan air minum masih memerlukan banyak perbaikan.

Studi Kasus Masalah Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia

  1. Lombok Utara, NTB

Di Kabupaten Lombok Utara, lebih dari 40% penduduknya masih melakukan buang air besar sembarangan (BABS). Salah satu penyebabnya adalah minimnya sarana jamban keluarga yang memadai. Hal ini memicu tingginya angka diare, terutama pada balita. Berdasarkan laporan Puskesmas setempat pada 2024, tercatat lebih dari 300 kasus diare akut dalam tiga bulan pertama tahun itu, yang sebagian besar berkaitan dengan konsumsi air minum tidak bersih akibat kontaminasi tinja.

  1. Kabupaten Serang, Banten

Di wilayah pesisir Serang, air tanah dangkal yang biasa digunakan masyarakat sudah tercemar oleh intrusi air laut dan limbah rumah tangga. Warga yang menggunakan sumur gali melaporkan airnya berwarna keruh dan berasa asin. Akibatnya, banyak kasus infeksi kulit dan penyakit pencernaan yang dilaporkan ke Puskesmas.

  1. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT

Dalam laporan Water.org tahun 2024, disebutkan bahwa sekitar 60% keluarga di pedalaman TTS masih mengambil air dari sungai atau mata air terbuka, yang sering kali tercemar aktivitas mandi, mencuci, bahkan ternak. Anak-anak di sana rutin mengalami cacingan dan gatal-gatal kulit.

Dampak Buruk Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia yang Tidak Memadai

Kondisi sanitasi yang tidak layak serta air yang tercemar menimbulkan berbagai dampak serius:

  1. Kesehatan masyarakat terganggu. Penyakit diare, disentri, kolera, hepatitis A, tifoid, hingga stunting sangat erat kaitannya dengan kualitas air dan sanitasi buruk.
  1. Beban ekonomi keluarga meningkat. Biaya berobat serta hilangnya produktivitas akibat sakit menjadi pengeluaran tambahan yang sebenarnya dapat dicegah.
  1. Menurunkan kualitas pendidikan. Anak-anak yang sering sakit akan sering absen sekolah, mengganggu proses belajar mereka.
  1. Dampak psikososial. Perempuan dan anak perempuan rentan mengalami stres karena harus mencari tempat BABS di lokasi terpencil yang tidak aman.

 

Baca juga: Sampah Plastik: Apa yang Kita Buang Kembali ke Hidup Kita

 

Strategi Peningkatan Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia

Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan pendekatan menyeluruh meliputi pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, dan perubahan perilaku masyarakat.

  1. Pembangunan Infrastruktur Sanitasi dan Air Bersih

Jamban sehat dan septic tank individual/komunal.

Program ini menjadi prioritas dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang digaungkan Kementerian Kesehatan. Di Desa Beringin Jaya, Lombok Utara, pada 2024 dibangun 100 unit jamban sehat bantuan CSR perusahaan air mineral, mengurangi praktik BABS hampir 50%.

Pamsimas (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).

Sejak 2008 hingga kini, program ini telah menjangkau lebih dari 33.000 desa. Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, jaringan pipa air bersih Pamsimas mengalirkan air dari sumber mata air ke rumah-rumah warga, menurunkan beban masyarakat mencari air jauh ke sungai.

Teknologi sederhana seperti sumur bor, filter pasir lambat, dan biofilter rumah tangga.

Di Serang, beberapa rumah tangga 1. mulai memakai filter air keramik lokal untuk menyaring lumpur dan bakteri.

  1. Peningkatan Edukasi & PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

Edukasi cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum makan dan setelah BAB, terbukti menurunkan risiko diare hingga 40%.

Kampanye stop BABS, dengan pendekatan dialog budaya dan tokoh adat/agama. Di NTT, pendekatan lewat gereja dan posyandu sangat efektif mendorong penggunaan jamban.

  1. Kolaborasi Multi Pihak

Sanitasi dan air bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan:

Partisipasi swasta (CSR). Banyak perusahaan menyalurkan program tanggung jawab sosial mereka dalam bentuk penyediaan sarana air bersih.

LSM dan organisasi internasional seperti UNICEF, Plan Indonesia, Water.org yang melakukan pendampingan teknis hingga pemberdayaan ekonomi (pinjaman mikro untuk membangun sanitasi keluarga).

Peran aktif masyarakat dalam mengelola, memelihara, dan menjaga fasilitas yang telah dibangun agar berkelanjutan.

“ Sanitasi dan air bersih adalah fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan produktif. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari kondisi geografis, perilaku masyarakat, hingga keterbatasan pendanaan. Namun dengan kolaborasi lintas sektor, edukasi terus-menerus, serta dukungan program pembangunan yang berkelanjutan, Indonesia optimis dapat memenuhi target SDGs 2030 untuk akses air minum aman dan sanitasi layak bagi seluruh penduduknya.” 

 

Ditulis oleh : Delia Nur Amalia Pratiwi, Mochammad Adiya Pasha, Muhammad Ihsan Hakim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *