Bandung, 4 Maret 2026 – Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Persia setelah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Penutupan ketat jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi penyebab utama terganggunya distribusi minyak dari kawasan tersebut.
PIS mengonfirmasi bahwa kapal MT Pertamina Pride, yang telah menyelesaikan proses loading di Ras Tanura, Arab Saudi, serta MT Gamsunoro, yang sedang melakukan loading di Khor al-Zubair, Irak, saat ini belum dapat keluar dari area Teluk Persia. Situasi keamanan yang tidak stabil membuat jalur keluar menuju Samudra Hindia melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka.
Baca juga: Serangan Israel Hantam Sekolah Dasar di Iran, Puluhan Anak Tewas
Jalur Vital Energi Dunia Terganggu

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan ini setiap harinya. Ketika akses dibatasi, dampaknya langsung terasa pada rantai pasok energi global dan harga minyak dunia.
Sejumlah analis energi menyebut ketegangan militer terbaru meningkatkan risiko gangguan suplai minyak dari Timur Tengah. Harga minyak mentah global dilaporkan melonjak setelah muncul laporan pembatasan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Pemerintah Lakukan Diplomasi dan Siapkan Opsi Alternatif
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah sedang melakukan upaya diplomasi agar kapal Indonesia dapat segera keluar dari wilayah konflik dengan aman.
“Kami sedang berkoordinasi secara intensif agar kapal bisa keluar secepatnya,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga menyiapkan opsi impor alternatif, termasuk dari Amerika Serikat, guna menjaga stabilitas stok minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan dalam negeri tetap aman meskipun terjadi gangguan jalur distribusi internasional.
Awak Kapal Dipastikan Aman
Pihak Pertamina memastikan seluruh awak kapal dalam kondisi aman dan terus memantau perkembangan situasi keamanan. Protokol keselamatan pelayaran diterapkan secara ketat sambil menunggu kepastian pembukaan jalur pelayaran.
Baca juga: Iran Serang Balik, Rudal Hantam Pangkalan Militer AS di Qatar dan Bahrain
Dampak Global Masih Berkembang

Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga stabilitas ekonomi global. Pasar energi, nilai tukar mata uang, dan sektor logistik internasional menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan di kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memantau situasi dan mengambil langkah cepat untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

















nisa
semoga pa prabowo bisa mengatasinya, aku mendukungmu pa