HIMA dalam SDGs 16: Keadilan dan Transparansi di Kampus

SDGs 16 di kampus bukan sekadar jargon global, tetapi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang damai, adil, dan berlandaskan kelembagaan tangguh. Melalui peran aktif organisasi mahasiswa seperti HIMA, nilai-nilai transparansi, inklusivitas, dan demokrasi dapat ditanamkan sejak dini.

Pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak—termasuk lingkungan pendidikan tinggi. Salah satu agenda global yang relevan dengan dinamika kampus adalah Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan ke-16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

SDGs 16 menekankan pentingnya menciptakan masyarakat yang damai dan inklusif, menjunjung tinggi prinsip keadilan, serta membangun kelembagaan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel. Di lingkungan kampus, nilai-nilai ini dapat direfleksikan melalui cara kerja organisasi kemahasiswaan, seperti Himpunan Mahasiswa (HIMA).

 

Transparansi dan Demokrasi sebagai Implementasi SDGs 16 di HIMA

HIMA

Sebagai wadah aspirasi dan pengembangan mahasiswa, HIMA memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan budaya demokratis dan adil. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu anggota HIMA, tampak bahwa upaya ke arah itu sudah mulai berjalan. Misalnya, dalam proses pengambilan keputusan, anggota merasa dilibatkan, salah satunya melalui voting terbuka untuk program kerja. Hal ini mencerminkan partisipasi dan transparansi yang menjadi bagian penting dari SDGs 16.

Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua suara anggota dianggap setara. Hanya pendapat yang dianggap rasional dan tidak emosional yang mendapat ruang. Ini menunjukkan bahwa meskipun ruang demokrasi dibuka, perlu upaya lebih untuk memastikan semua suara dihargai secara adil tanpa diskriminasi. Selain itu, sistem kaderisasi dan pembagian tanggung jawab juga menjadi catatan penting yang perlu ditinjau ulang agar tidak menimbulkan ketimpangan internal.

Sisi positif lainnya adalah bagaimana konflik disikapi. Dalam salah satu pengalaman, HIMA menyelenggarakan Musyawarah Istimewa dan melibatkan demisioner untuk mendapatkan pandangan yang netral dan objektif. Langkah ini menggambarkan kematangan dalam berorganisasi dan menjadi praktik baik dalam menciptakan kelembagaan yang tangguh.

Lebih jauh, responden juga menekankan pentingnya nilai kekeluargaan, kedewasaan, dan keterbukaan dalam menjaga solidaritas antaranggota. Ini merupakan fondasi yang kuat untuk mencegah diskriminasi dan eksklusivitas dalam tubuh organisasi.

 

Baca juga: Sampah Plastik: Apa yang Kita Buang Kembali ke Hidup Kita

 

Dengan melihat praktik dan tantangan yang ada, HIMA diharapkan dapat terus meningkatkan komitmen terhadap nilai-nilai SDGs 16. Mulai dari membuka ruang diskusi yang lebih setara, merancang sistem kaderisasi yang adil, hingga membudayakan transparansi dalam setiap proses organisasi. Melalui peran aktif ini, HIMA tidak hanya membentuk kepengurusan yang efektif, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mewujudkan kampus yang inklusif, adil, dan demokratis—selaras dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

 

Ditulis oleh: Hasna Tsania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *