Pendidikan di Indonesia: Mengapa Volunteer Dibutuhkan Sekarang

pendidikan

Bayangin kamu lagi scroll media sosial, terus lihat video anak-anak di pelosok yang belajar di kelas sederhana, bahkan kadang tanpa meja dan kursi.
Mereka tetap tersenyum, tetap semangat, meski akses pendidikan mereka jauh dari kata layak.

Di saat yang sama, ada banyak anak di kota besar yang punya akses internet, buku, bahkan les tambahan. Di sinilah kesenjangan pendidikan di Indonesia terasa begitu nyata.
Pertanyaannya: apa yang bisa kita lakukan?

Realita Pendidikan Indonesia Saat Ini

pendidikan

Menurut laporan OECD PISA 2022, lebih dari 75% siswa usia 15 tahun di Indonesia belum mencapai tingkat minimum kemampuan dalam matematika dan membaca (OECD, 2023).
Artinya, sebagian besar siswa belum memiliki keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan atau menghadapi tantangan hidup.

“Angka ini bukan hanya sekadar data, tapi cerminan masa depan generasi kita.”

Selain itu, data dari BPS (2023) menunjukkan bahwa daerah-daerah terpencil memiliki angka partisipasi sekolah yang jauh lebih rendah dibandingkan kota besar.
Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti:

  • Infrastruktur yang kurang memadai (jalan sulit, sekolah jauh dari rumah),

  • Kurangnya mentor berkualitas,

  • Kondisi ekonomi keluarga yang membuat anak harus membantu orang tua bekerja.

 

Kesenjangan Daerah: Anak yang Sulit Mendapat Apresiasi

Di kota, anak-anak sering mendapatkan dukungan berupa les tambahan, penghargaan dari sekolah, bahkan akses ke lomba dan beasiswa.
Namun, di beberapa daerah terpencil, anak-anak justru mengalami hal sebaliknya.

Banyak dari mereka yang tidak pernah mendapatkan apresiasi atas usaha mereka dalam belajar. Padahal, mereka punya mimpi dan potensi yang sama besarnya dengan anak-anak di kota.

Bayangkan seorang anak yang harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolah, tapi ketika sampai, gurunya jarang hadir atau fasilitas belajarnya sangat terbatas. Tanpa apresiasi dan dukungan, semangat mereka perlahan bisa padam.

Di sinilah volunteer mengajar di Indonesia menjadi sangat berarti. Volunteer bisa hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teman yang menghargai usaha mereka, memberi motivasi, dan membangun rasa percaya diri yang seringkali hilang karena kurangnya pengakuan.

“Kadang, yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya ilmu, tapi seseorang yang percaya pada mereka.”

Peran Volunteer Mengajar dalam Mengatasi Kesenjangan

Menurut survei UNV & IndoRelawan (2019-2021), 24,78% volunteer di Indonesia menghabiskan lebih dari 90 jam dalam kegiatan sosial mereka, menunjukkan dedikasi tinggi untuk mendukung masyarakat (UNV, 2021).

Peran volunteer mengajar bukan hanya tentang mengajar pelajaran seperti matematika atau bahasa, tapi juga:

  • Memberi pendampingan emosional dan rasa dihargai kepada anak-anak.

  • Menjadi role model yang menunjukkan bahwa mimpi mereka mungkin diraih.

  • Membantu sekolah dan mentor setempat yang kekurangan tenaga pengajar.

  • Menciptakan lingkungan belajar yang penuh semangat dan inspirasi. 

Efeknya bisa seperti efek domino: Satu anak yang terinspirasi akan membawa perubahan bagi teman-temannya, keluarga, bahkan komunitasnya.

 

Kakak Asuh dan Kurikulum Berdaya

pendidikan

Salah satu contoh nyata yang bisa menginspirasi adalah Kakak Asuh, sebuah komunitas yang memiliki kurikulum berdaya. Kurikulum ini mengajarkan hal-hal yang tidak selalu diajarkan di sekolah, seperti:

  • Cara menjaga kesehatan diri dan lingkungan,

  • Mengenal potensi dan jati diri,

  • Membangun kepercayaan diri dan kemampuan sosial,

  • Kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Program seperti ini membantu anak-anak bukan hanya pintar secara akademis,
tetapi juga tangguh dan siap menghadapi kehidupan.

Bayangkan dampak positif yang bisa tercipta jika semakin banyak anak muda yang ikut menjadi volunteer mengajar di Indonesia dan terlibat dalam program seperti ini.

Saatnya Anak Muda Bergerak Sekarang

Menurut studi dari BMC Medical Education, hampir 48,7% mahasiswa Indonesia bersedia menjadi volunteer selama pandemi, tapi hanya 18,6% yang merasa benar-benar siap terjun ke lapangan (BMC Medical Education, 2021).

Ini menunjukkan bahwa banyak anak muda punya niat baik, tapi masih ragu atau bingung bagaimana memulainya. Dengan ikut volunteer mengajar, kamu bukan cuma membantu anak-anak, tapi juga mengembangkan dirimu sendiri.
Skill yang akan kamu pelajari:

  • Public speaking dan komunikasi,

  • Leadership dan manajemen kelas,

  • Empati dan memahami beragam latar belakang,

  • Problem solving dalam situasi nyata.

Ini bukan hanya pengabdian, tapi juga investasi untuk masa depanmu.

Baca juga: Manfaat Volunteer Mengajar: Berdampak Nyata Lewat Pendidikan 

Langkah Kecil yang Mengubah Masa Depan

Kadang, yang dibutuhkan untuk mengubah masa depan bukanlah sesuatu yang besar,
tapi kehadiran seseorang yang mau peduli.

Volunteer mengajar bukan hanya tentang memberi pelajaran, tapi tentang menunjukkan pada seorang anak bahwa mereka layak bermimpi dan layak diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *