Ahli Gizi Peringatkan Bahaya Minum Teh Langsung Setelah Makan

Bandung — Minum teh setelah makan telah menjadi kebiasaan turun-temurun di banyak negara, termasuk Indonesia. Bagi sebagian besar orang, teh dianggap sebagai minuman penutup yang menyegarkan dan menenangkan. Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa kebiasaan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika dilakukan terlalu cepat setelah makan.

 

Kandungan dalam Teh yang Menjadi Sorotan

ahli

Teh memang mengandung berbagai senyawa bermanfaat seperti antioksidan yang membantu melawan radikal bebas. Akan tetapi, di balik manfaatnya, teh juga mengandung tanin dan kafein — dua zat yang dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi dari makanan yang baru dikonsumsi.

Menurut dr. Rika Mulyani, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Jakarta, waktu minum teh yang kurang tepat bisa menurunkan efektivitas penyerapan zat besi dan protein.

“Sebaiknya beri jeda minimal satu hingga dua jam setelah makan. Jika langsung diminum, teh bisa menghambat penyerapan zat besi terutama dari sumber nabati seperti sayuran dan kacang-kacangan,” jelasnya.

 

Baca juga: Stoicism untuk Mahasiswa: Seni Tetap Tenang Saat Gagal

 

Kebiasaan Budaya yang Sudah Mengakar di Indonesia

ahli

Di Indonesia, minum teh setelah makan bukan hanya sekadar kebiasaan, tapi juga bagian dari budaya sosial keluarga. Baik di rumah, warung makan, maupun restoran, segelas teh hangat sering menjadi pelengkap setelah makan siang atau malam.

Namun, kebiasaan ini tidak selalu ditemukan di negara lain. Di Inggris, waktu minum teh dilakukan di antara waktu makan (tea time), sementara di Jepang dan Tiongkok, teh sering disajikan dengan jeda tertentu sebagai bagian dari ritual kesehatan.

 

Risiko Medis Jika Langsung Minum Teh Setelah Makan

Para ahli menyoroti beberapa dampak medis dari kebiasaan minum teh langsung setelah makan.

1. Menghambat penyerapan zat besi.

Tanin dalam teh dapat mengikat zat besi non-heme dari makanan nabati, sehingga tubuh sulit menyerapnya. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan anemia defisiensi besi, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita anemia.

 

2. Mengganggu penyerapan protein dan mineral.

Selain zat besi, tanin juga dapat menurunkan penyerapan protein, zinc, dan kalsium, yang penting untuk kesehatan tulang dan sistem metabolisme.

 

3. Efek kafein terhadap pencernaan.

Kandungan kafein dalam teh dapat memicu peningkatan asam lambung atau gangguan tidur bagi yang sensitif. Beberapa orang juga mengalami rasa kembung dan begah setelah minum teh terlalu cepat sesudah makan.

 

Baca juga: Man of Tomorrow’ Siap Syuting April 2026

 

Cara Aman Menikmati Teh Tanpa Ganggu Nutrisi Tubuh

Meski begitu, bukan berarti minum teh harus dihindari. Teh tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat jika dikonsumsi pada waktu dan cara yang tepat.

Ahli gizi menyarankan agar teh diminum 1–2 jam setelah makan, atau di pagi hari sebelum sarapan ringan. Menambahkan lemon atau madu juga bisa membantu, karena vitamin C dari lemon membantu penyerapan zat besi.

Selain itu, memilih teh herbal tanpa kafein seperti teh jahe, kamomil, atau rosella dapat menjadi alternatif yang lebih aman untuk lambung. Para ahli juga mengingatkan agar konsumsi teh tidak berlebihan — cukup 1–2 cangkir per hari sudah ideal untuk mendapatkan manfaatnya tanpa mengganggu penyerapan nutrisi tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *