Hubungan dekat sering kali jadi hal yang rumit bagi anak muda. Ada yang merasa nyaman bercerita dan terbuka, tapi ada juga yang justru memilih menjauh saat mulai dekat dengan seseorang.
Nah, perilaku seperti ini bisa jadi tanda dari avoidant attachment, salah satu gaya keterikatan (attachment style) yang diam-diam banyak dialami oleh generasi muda saat ini.
Apa Itu Avoidant Attachment?
Avoidant attachment adalah pola hubungan di mana seseorang cenderung menghindari kedekatan emosional.
Mereka sering terlihat mandiri, tenang, bahkan “tidak butuh orang lain,” padahal di dalam hati sebenarnya ada rasa takut akan penolakan atau kehilangan.
Menurut psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth, attachment terbentuk sejak masa kecil dan berlanjut hingga dewasa. Anak yang tumbuh tanpa kehangatan emosional dari orang tua cenderung mengembangkan avoidant attachment yakni berusaha melindungi diri dengan cara tidak terlalu tergantung pada orang lain.
Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?
Di era media sosial dan budaya “self-sufficient”, banyak anak muda yang terbiasa menunjukkan citra kuat dan independen.
Tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” membuat mereka menekan kebutuhan emosionalnya.
Sebuah penelitian dari Universitas Indonesia (2023) menunjukkan bahwa 47% mahasiswa di Jakarta menunjukkan kecenderungan avoidant attachment dalam hubungan romantis. Faktor utamanya adalah pengalaman masa kecil yang kurang aman secara emosional, serta pola komunikasi yang dingin di lingkungan keluarga.
Selain itu, trauma masa lalu seperti pernah disakiti, dikhianati, atau tidak dihargai juga bisa memicu pola ini.
Akibatnya, ketika seseorang mulai dekat, individu dengan avoidant attachment justru menarik diri, seolah ingin “melindungi hati” sebelum terluka.
Tanda-Tanda Kamu Mungkin Punya Avoidant Attachment

-
Kamu merasa sulit terbuka soal perasaan.
-
Lebih suka memendam masalah daripada membicarakannya.
-
Merasa tidak nyaman saat pasangan terlalu perhatian.
-
Mudah merasa “tercekik” saat hubungan mulai serius.
-
Setelah konflik, kamu memilih diam atau menjauh, bukan menyelesaikan.
Kalau beberapa hal di atas terasa relate, bukan berarti kamu tidak bisa membangun hubungan sehat dan kamu hanya perlu mengenali polanya lebih dalam.
Baca juga: Orientasi Mahasiswa : Semangat Baru ARS University 2025
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Mengatasi avoidant attachment bukan soal “mengubah diri sepenuhnya”, tapi belajar percaya dan menerima kedekatan emosional secara perlahan. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:
-
Sadari polanya. Kenali kapan kamu mulai menjauh atau menolak kedekatan.
-
Bangun komunikasi yang jujur. Belajar mengatakan “aku butuh waktu” tanpa memutus hubungan.
-
Berlatih menerima bantuan. Tidak semua dukungan berarti kelemahan.
-
Pertimbangkan terapi atau konseling. Profesional bisa membantumu memahami akar emosional dari perilaku tersebut.
Hubungan Sehat Dimulai dari Kesadaran Diri
Kamu tidak harus selalu terbuka sepenuhnya pada semua orang, tapi juga tidak perlu selalu menjaga jarak. Hubungan yang sehat bukan tentang seberapa sering bersama, melainkan seberapa aman kamu merasa di dalamnya.
Avoidant attachment bukan akhir dari cerita.
Dengan kesadaran dan proses penyembuhan yang tepat, kamu bisa belajar untuk tidak takut dekat tanpa kehilangan rasa aman dalam diri sendiri.
















Leave a Reply