Produktif atau Kelelahan : Sebuah Jebakan bagi Mahasiswa

produktif

Pernah merasa bersalah saat sedang istirahat karena merasa “harusnya bisa ngapa-ngapain?” Atau bahkan merasa takut dianggap malas ketika berhenti sejenak?

Hati-hati, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam toxic productivity, kondisi di mana seseorang menilai harga dirinya berdasarkan seberapa banyak hal yang ia hasilkan.

 

Apa Itu Toxic Productivity?

Toxic productivity adalah obsesi berlebihan terhadap produktivitas, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah lelah. Di era media sosial, kita sering melihat orang lain “selalu sibuk”, sehingga tanpa sadar kita membandingkan diri sendiri dan merasa harus terus melakukan sesuatu agar “tidak tertinggal”.

Pada awalnya, semangat untuk produktif memang baik. Tapi ketika motivasinya berubah menjadi tekanan, hal itu justru bisa memicu stres, kelelahan, dan bahkan burnout.

Tekanan Mahasiswa Indonesia

produktif

Fenomena ini bukan cuma dirasakan sendiri. Berdasarkan penelitian di Universitas Padjadjaran, dari 170 mahasiswa keperawatan yang mengikuti pembelajaran daring, lebih dari 55,3% mengalami burnout tingkat sedang, terutama pada aspek kelelahan emosional.Begitu juga penelitian di Universitas Trisakti, yang menemukan bahwa 32,7% mahasiswa kedokteran mengalami burnout sedang hingga berat selama masa pandemi.

Bahkan, penelitian lain di Universitas Diponegoro menunjukkan adanya hubungan signifikan antara burnout dan depresi pada mahasiswa. Artinya, tekanan untuk selalu produktif bukan hanya soal waktu dan tugas, tapi juga bisa mengganggu keseimbangan mental.

Hubungan Antara Toxic Productivity dan Coping Mechanism

Ketika seseorang merasa harus selalu sibuk, ia cenderung mengabaikan kebutuhan emosionalnya. Padahal, coping mechanism yaitu cara seseorang menghadapi stres itu sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.

Masalahnya, banyak mahasiswa memilih coping mechanism yang salah, seperti menunda tidur demi menyelesaikan tugas, atau mengalihkan stres dengan overworking (kerja berlebihan) agar merasa “berharga”. Akibatnya, tubuh terus menumpuk stres tanpa pernah benar-benar beristirahat.

Baca juga : Perubahan Iklim: Krisis Global yang Butuh Aksi Nyata

Cara Mengatasi Toxic Productivity dengan Coping Mechanism yang Sehat

Agar tidak terjebak dalam lingkaran produktivitas semu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

  1. Sadari batas diri.
    Tidak semua hal harus dikerjakan sekaligus. Mengakui bahwa kamu lelah bukan berarti gagal.

  2. Ubah pandangan tentang istirahat.
    Waktu istirahat bukan pemborosan waktu, melainkan bagian penting dari produktivitas jangka panjang.

  3. Gunakan coping mechanism positif.
    Coba journaling, berbagi cerita dengan teman, atau sekadar berjalan sore. Hal kecil seperti ini bisa menurunkan stres dan menyeimbangkan energi.

  4. Tetapkan prioritas dan jangan bandingkan diri.
    Ingat, setiap orang punya ritme dan kapasitasnya masing-masing. Produktif tidak harus berarti sibuk setiap saat.

 

Belajar Menjadi Produktif Tanpa Kehilangan Diri

Pada akhirnya, toxic productivity dan coping mechanism saling berkaitan erat, yang satu bisa memperburuk, dan yang lain bisa menyelamatkan. Mahasiswa perlu belajar bahwa produktif bukan berarti harus terus bergerak, tapi juga tahu kapan harus berhenti. Karena menjadi produktif seharusnya membuat kita berkembang, bukan kehilangan arah.

Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu memilih untuk berhenti sejenak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *