BANDUNG – (21/9/2026) Pengenalan teknologi drone dalam ARStrobot 2026 tidak berhenti pada kompetisi. ARS University juga membawa edukasi teknologi tersebut ke lingkungan sekolah melalui rangkaian kunjungan dan workshop yang melibatkan siswa serta pengajar.
Ketua Panitia ARStrobot 2026, Eldeast Jane Abdul Fitra, S.I.P., M.M., mengatakan program edukasi tersebut telah menjangkau 180 siswa dari sembilan sekolah. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi drone sejak usia sekolah sekaligus membuka pemahaman mengenai pemanfaatannya untuk kebutuhan nyata.
Selain siswa, panitia juga menggelar workshop Drone 4 Teacher pada 27 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti 16 peserta dari kalangan pengajar. Menurut Eldeast, keterlibatan para pengajar ini penting agar pengetahuan mengenai teknologi drone dapat terus dikenalkan kepada siswa di lingkungan sekolah.
“Drone itu ada, tetapi kalau tidak ada pilotnya juga akan sulit digunakan. Karena itu, kami ingin anak-anak mulai memiliki kemampuan dasar untuk mengoperasikan drone,” ujarnya.
Baca juga: ARStrobot 2026 Dorong Pelajar Kenali Drone untuk Respons Bencana
Menurutnya, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal ketika teknologi drone dibutuhkan dalam situasi bencana. Drone dapat membantu pencarian korban maupun membawa kebutuhan seperti obat-obatan dan logistik ketika akses menuju lokasi terdampak sulit dijangkau.
Pengembangan keterampilan tersebut juga menjadi bagian dari visi ARS University untuk menghadirkan kampus yang berdampak melalui teknologi. Eldeast menilai pemanfaatan drone untuk kebutuhan kemanusiaan masih memiliki ruang untuk dikembangkan di Indonesia.
Rangkaian ARStrobot juga akan berlanjut melalui ARStrobot 2027. Pada penyelenggaraan berikutnya, panitia berencana mengusung teknologi Neurotical Robotics berupa lengan robotik yang ditujukan untuk membantu penyandang disabilitas.
“ARStrobot 2027-nya mengusung teknologi Neurotical Robotics, jadi lengan robot untuk membantu kaum disabilitas,” kata Eldeast.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa ARStrobot tidak hanya diarahkan sebagai ajang kompetisi teknologi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan inovasi yang memiliki manfaat sosial. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan keterampilan teknologi serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi untuk kebutuhan masyarakat. (Robby)















Leave a Reply