Bandung, 8 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan fenomena La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Kondisi iklim global kini memasuki fase netral dalam sistem El Niño–Southern Oscillation.
BMKG mencatat nilai indeks ENSO berada di kisaran -0,28, yang menandakan kondisi netral. Fase ini diperkirakan bertahan hingga sekitar Juni 2026 sebelum kemungkinan perubahan pola iklim berikutnya.
Potensi Kemarau Lebih Kering

Memasuki pertengahan 2026, peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat diperkirakan mencapai sekitar 50–60 persen. Jika fenomena ini terjadi, musim kemarau 2026 berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Selain itu, intensitas curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan berada di bawah rata-rata klimatologis. Hal ini dapat memicu kondisi kemarau yang lebih kering di berbagai daerah.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas, Kapal Pertamina Tertahan
Puncak Kemarau Diprediksi Agustus 2026
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 429 dari 699 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
Wilayah yang berpotensi mengalami puncak kemarau pada periode tersebut meliputi sebagian besar wilayah Sumatra bagian tengah hingga selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua.
Sementara itu, beberapa wilayah lainnya diperkirakan mengalami kemarau dengan intensitas yang bervariasi sesuai karakteristik iklim regional masing-masing.
Jawa Barat Berpotensi Alami Kekeringan
Sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk wilayah Bandung dan sekitarnya, berpotensi terdampak kondisi kemarau yang lebih kering dari biasanya. Penurunan curah hujan di bawah normal dapat meningkatkan risiko kekeringan serta memperbesar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, terutama pada wilayah yang bergantung pada curah hujan sebagai sumber irigasi utama.
Imbauan Antisipasi dari BMKG
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku sektor pertanian, serta masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Beberapa langkah yang disarankan antara lain penyesuaian jadwal tanam, pengelolaan sumber daya air secara lebih efisien, serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Dengan langkah mitigasi yang tepat, dampak musim kemarau yang lebih panjang diharapkan dapat diminimalkan, terutama bagi sektor pertanian dan lingkungan.
















Leave a Reply