Karhutla Saleman Masuk Hari ke-15, Warga Dibantu Air Bersih

MALUKU TENGAH, (27/10/2026) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, masih dalam penanganan hingga Selasa (27/10/2026). Upaya pemadaman telah memasuki hari ke-15, dengan dukungan personel dan sarana dari sejumlah instansi untuk mengendalikan api serta membantu masyarakat terdampak.

Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IX bersama Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Zona Timur mengerahkan personel dan satu unit truk tangki air untuk mendukung penanganan. Kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan hutan dan perkebunan warga di Jalan Lintas Seram kilometer 3. Petugas juga melakukan penyisiran titik api, patroli, pemadaman, serta pembasahan lahan guna mengantisipasi munculnya kembali api.

Di tengah penanganan tersebut, kebutuhan air bersih warga turut menjadi perhatian. Satgas Kodaeral IX bersama Bakamla RI Zona Timur menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Saleman, termasuk untuk minum, memasak, dan menjaga kebersihan. Bantuan tersebut diberikan saat warga menghadapi kesulitan pasokan air di tengah kondisi panas dan kebakaran yang berlangsung.

 

Baca juga: Warga Kaltim Tebar Benih di Bekas Karhutla untuk Jaga Hutan

 

Ancaman karhutla juga terlihat dari pemantauan titik panas di wilayah Maluku. Data pemantauan nasional yang dirujuk Katadata mencatat 161 titik panas di Maluku dalam periode 24 jam hingga Selasa (27/10). Angka ini merupakan deteksi satelit, bukan jumlah kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi.

Sebelumnya, kabut asap sempat menyelimuti Kota Ambon dan mendorong pemerintah daerah mengambil langkah perlindungan kesehatan. Pada pertengahan Oktober, Pemprov Maluku menghentikan sementara pembelajaran tatap muka bagi siswa SMA, SMK, dan SLB selama tiga hari. Pemkot Ambon juga memberlakukan pembelajaran jarak jauh serta bekerja dari rumah bagi ASN pada 13–16 Oktober 2026.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG, serta membatasi aktivitas luar ruangan ketika kondisi asap mengganggu. Penanganan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah api meluas sekaligus mengurangi risiko terhadap kesehatan, lingkungan, dan aktivitas warga. (Robby)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *