JAKARTA, (30/10/2026) – Aksi demonstrasi mahasiswa bertajuk #IndonesiaSadar pada Rabu (28/10/2026) menjadi perhatian media internasional. Aksi yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 itu membawa berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari persoalan ekonomi hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Jakarta, mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat sipil menggelar aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jalan MH Thamrin, dan Jalan Sudirman. Demonstrasi serupa juga berlangsung di sejumlah daerah, termasuk Makassar dan Bandung.
Media internasional seperti Reuters dan Channel News Asia (CNA) turut melaporkan aksi tersebut. Pemberitaan mereka menyoroti desakan demonstran agar pemerintah menetapkan karhutla di Sumatra dan Kalimantan sebagai bencana nasional. Massa juga menyuarakan keberatan terhadap kenaikan harga, pengurangan subsidi, serta prioritas penggunaan anggaran negara.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima pokok tuntutan, yakni penanganan krisis ekologis, pembenahan kebijakan ekonomi dan anggaran negara, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi dan reformasi hukum, serta perlindungan HAM dan kebebasan berpendapat.
Baca juga: Mahasiswa Unisba Kritik Prabowo-Gibran di DPRD Jabar
Di tengah ramainya pemberitaan media asing, muncul pula perbincangan di media sosial mengenai minimnya liputan demonstrasi oleh televisi nasional. Namun, catatan pemberitaan menunjukkan CNN Indonesia TV menayangkan laporan video mengenai situasi demonstrasi pada malam 28 Oktober. iNews juga memuat pemberitaan aksi tersebut pada hari yang sama. Dengan demikian, klaim bahwa aksi sama sekali tidak diberitakan televisi nasional tidak tepat. Meski begitu, perdebatan mengenai porsi dan intensitas liputan masih menjadi perhatian publik.
Sementara itu, isu pejabat yang merangkap jabatan juga muncul dalam narasi yang beredar. Namun, persoalan tersebut tidak disebut secara khusus dalam daftar lima tuntutan utama yang dipublikasikan terkait aksi #IndonesiaSadar.
Perbincangan ini kembali menyoroti pentingnya keterbukaan informasi dan kebebasan pers. Pemberitaan yang faktual, berimbang, serta memberikan ruang bagi berbagai sudut pandang diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai aspirasi yang disampaikan melalui aksi demonstrasi. (Robby)
















Leave a Reply